Bulan Bintang & Matahari

I am not a star. I am not even close to be the Sun. I am not able to reflect light from the Sun when night comes. I am only a traveller who is wandering around this small world, doing little business, living small history. But I have a " Bulan Bintang & Matahari" consist of me, him, and our little Kaylia. That is what I call my universe : bulan bintang dan matahari.

Monday, May 16, 2005

When I Judge the Book by it's Cover

Ketika saya pertama kali bertemu dengan seseorang: dengan kamu, dengan Bu Dede (guru SD saya di kelas 2 yang cantik tapi judes dan tiba-tiba aja muncul di benak saya saat ini), dengan Aris (si doi yang sekarang jadi Bapaknya Kaylia), dengan siapa pun... saya sungguh tidak tau harus menilai apa atau berpendapat apa ttg dia, ttg kamu. Untunglah mereka semua itu, termasuk kamu, memakai pakaian, berbicara (meski bukan ke saya), melakukan atau tidak melakukan sesuatu (yang keliatan ama saya) sehingga saya terselamatkan dari selimut misteri atau blanky wanky situation. How you dressed, the way and what you talk about, what you do and not do just helped me at those first glances. So, pemeo jangan menilai buku dari sampulnya ya nggak 100% bener banget sih... meskipun saya sungguh nggak berani menilai seseorang ”hanya dari sampulnya aja”. Sehingga seringnya sih saya memutuskan untuk membaca buku itu untuk tau lebih jauh sebelum saya punya suatu kesimpulan.

Sebagian besar orang di sekeliling saya, punya bukunya masing-masing dengan sampul yang kadang pun tidak selalu sama dalam setiap kesempatan saya melihatnya. Mereka mengisi bukunya, menghapus sebagian yang mereka kehendaki, mewarnai, memberi gambar, dan lain-lain. Buku itu bergerak seiring dengan dinamika hidup pemiliknya.

Pertanyaannya, bagaimana jika buku itu tebelnya luar biasa ? Bagaimana jika buku itu berbahasa asing yang belum tentu saya mengerti? Bagaimana jika buku itu bersikukuh tidak mau saya baca ? Bagaimana jika ternyata saya tidak mampu memahami isinya ?

Saya tidak begitu bahagia ketika saya harus mengakui, tak satu buku pun yang hingga saat ini selesai saya baca. Orang tua saya hanya memperlihatkan sebagian script-nya, dan jarak semakin memaksa saya untuk hanya membaca ”resensi mingguan atau bulanan” dan sekilas melihat sampulnya yang agak berubah menjadi lebih cerah dan gambarnya yang lebih semarak semenjak Kaylia lahir.

Bab-bab akhir mertua saya memang saya bisa baca setiap hari, tapi apa yang tertulis sebelumnya hanya bisa saya lihat dari Bab Ringkasan. Yang agak lumayan adalah buku suami saya yang sama-sama kami diskusikan, kami isi, kami corat-coret, kami robek, dan kami bawa-bawa sehingga besar kesempatan bagi saya untuk sempat tekun membaca dan memahaminya.

Buku saya sendiri kemungkinan besar makin sulit dibaca (sedih banget, karena semakin sedikit orang yang berniat dan punya waktu untuk memahami saya), makin nggak keruan isinya, makin kacau...meskipun menurut saya itu menunjukkan bahwa hidup saya berubah dinais...agak bergeser dari ”rel kereta api” menjadi ”rel jet coaster”. Sampul buku saya itu juga sering terlihat kabur seiring dengan perubahan warna hati saya. Sketsanya juga makin abstrak. Kata orang, dulunya sampul saya itu bergambar simbol yang jelas dan mendasar, seperti kotak, bulatan, segitiga dengan warna-warna elementer merah, kuning, dan biru.... But, hey.. I'm growing up, you know !

Yang bikin excited adalah bukunya di kecil saya. Dia adalah karya yang paling luar biasa yang pernah saya baca. Tiap malam (karena sempatnya malam) saya baca dan baca lagi, tak pernah puas dan tak bosan-bosannya saya ulang-ulang, khawatir ada satu paragraf, satu kalimat, satu kata, atau satu huruf yang terlewat atau tak mampu saya pahami.

Sering muncul rasa egois untuk ikut campur melukis sesuatu di dalamnya, diam-diam menorehkan tinta saya, atau ikut-ikutan nulis-nulis, atau sekedar nyumbang saran ttg warna atau mendesain sampulnya supaya lebih cantik, kelihatan lebih intelek dan nyeni, supaya lebih bermutu. Padahal setiap titik keegoisan seperti ini akan berakibat semakin berkurangnya kesempatan dia untuk menemukan yang terbaik dari dirinya sendiri.

Saat ini pun saya masih dililit rantai egoisme dengan semena-mena membuat kerangka untuk isi buku-nya. Bab 3 adalah bab kegiatan pre school-nya yang belum saya putuskan apakah di rumah saja atau saya kirim ke sebuah tempat bernama ”sekolah”. Bab 6 nanti adalah kegiatan luar sekolahnya, termasuk buku-buku apa yang layak dibaca. Bahkan saya sudah mulai mereka-reka bab-bab pertengahan menyangkut pacar pertama-nya, calon suaminya, mertuanya...Ya ampun, apa saya normal ? Gila nggak ya, mengingat Kaylia masih 11 bulan ??!

Ketika di tengah malam saya terbangun, memandangi wajahnya yang murni dan mencoba ikut menikmati mimpi indahnya bersama malaikat surga, saya kadang tiba-tiba tersadar bahwa kurang sempurnanya buku saya tidak patut menjadikan saya terlalu menuntut kesempurnaan kepada sosok kecil yang tengah lelap dengan cantiknya. Saya harus membiarkan dia belajar menulis dan menggambarkan sendiri apa yang dia inginkan. Saya harus mulai belajar mengerti dirinya sebagai ”seseorang”, bukan sebagai bayi, batita, balita, remaja or whatever... TUgas saya hanyalah membiarkannya tumbuh, berkembang, menari, dan berbahagia sebagaimana fitrah penciptaannya...

Untuk diri saya sendiri, mungkin tiba waktu bagi saya untuk mulai mengisi buku saya sendiri dengan lebih baik, lebih jelas, lebih memiliki makna. Jangan asal coret, even ketika merepresentasikan jet coaster saya pada posisi menukik tajam dan tidak ada safety belt yang dapat menolong saya memperkecil risiko. Saya juga berdoa semoga buku-buku yang belum sempat saya tamatkan tetap dapat mengilhami saya diiringi permakluman yang tulus dari pemiliknya. Pinta saya : bantu saya membacanya.

O ya, satu lagi... bersabarlah jika halaman-halaman buku saya tidak seindah yang dibayangkan, ketika judul dan sampulnya tidak berhasil memberi gambaran ttg saya yang sebenarnya. Kalau mungkin, maafkanlah saya. Lalu bangunkanlah saya dengan kasih ketika buku itu menunjukkan saya terlalu lama terlelap tak bermanfaat.

Sunday, April 03, 2005

ELEKTRA

Meskipun terdapat beberapa pendapat pribadi di milis-milis yang menyatakan buku ketiga Dee ini kurang greget dibanding yang kedua, apalagi dibanding ama yang pertama.... tapi berhubung se-SMA ama Dee (apa coba hubungannya, kenal aja enggak !), demi melengkapi koleksi (karena ngakunya fans Dee) dan didorong rasa penasaran akhirnya abis ngurusin pajak di Setiabudi (orang bijak, nggak masuk pajak...hehehe...canda ding !) gw beli buku itu juga.

Apa kata orang di milis itu mungkin ada benernya, di situ story-nya Dee kurang gimanaaaa gitu. Tapi ada beberapa sudut yang nggak begitu penting dan cuman jadi setting, yang lucu dan menarik buat gw. Bandung-nya itu loh...kuentellll banget. Ngobatin kekangenan gw ama Bandung, Bandung yang dulu semasa gw kecil ...

Dimulai dari cilok...aci dicolok. Duuuh, emang itu makanan yummy banget. Nggak ada duanya deh. Biasanya sang tukang jualan, biasanya kita panggil ”si Emang”, udah mejeng di depan atau pinggir sekolahan SD gw sebelum istirahat tiba. Pas bel dipentung, tung .. tung .. tung... anak-anak langsung melesat menuju sepeda si Emang dan menyerbu tusukan-tusukan berisi 3 bola aci yang ditaro dalam langseng (dandang, red). Nggak lupa mencelupkan tusukan aci itu ke dalam toples bumbu kacang nan lezat (sejujurnya kacangnya sih dikit, tepung aci dan saos kiloannya yang banyak). Hhhhmmmm......tiada duanya !!! Sampe jadi emak-emak begini, gw masih sering berburu cilok. Sempet dapet di depan SD di daerah belakang kebon binatang. Tapi setelah itu susah banget dapetnya. Ternyata era cilok udah digeser dengan era cimol. Betapapun kata orang cimol itu rasanya lebih variatif akibat berbagai jenis topping-nya, tapi buat gw cilok is the best.

Setelah itu, tentang sanrio, tentang en ka o te be, tentang Jalan Buahbatu ... semua itu jelas dalam call out berbentuk awan di atas kepala gw. Setelah itu tentang Elektra : gue banget gitu loh... (hahhh ??!!) Ok, Ok... gw ngerti keberatan lo...

Gw emang bukan Kristen, bukan cia (cina aja) karena gw kebetulan ehm... caa (cakep aja), nggak bisa nyetrum, nggak punya warisan uang dari dedi ato papih ato papap ato babeh gw, nggak punya bisnis apa-apa, nggak punya pecinta dalam diam kaya Mpret, dan thanks God...nggak punya kakak cica kaya Watti.

Jadi di mana bagian ”gue banget getoloh”-nya ? Dengan berat hati gw kudu akuin pasti cuman ”ke-biasa banget-an” si Elektra, kalo nggak boleh dibilang kuper duper (kurang pergaulan, rindu percintaan). Termasuk hobi tidur si Neng Elektra itu yang njiplak hobi gw. Trus, apa ya istilahnya Dee... oh, iya... PENONTON. Persamaan gw ama Elektra itu meureun lebih ke peran yang biasanya terpaksa kami mainkan. Nontonin orang, nontonin dunia bergerak dan menggeliat.

Jaman sanrio, ortu nggak aware ama keberadaan produk nomor wahid buat gadis kecil manapun saat itu. Tau namanya aja enggak, apalagi harganya...bisa pingsan. Mending buat beli telor dan ati ayam (makanan wajib biar pinter, cenah... :p).

Jaman paduan suara dan pentas seni, jelas gw nggak pernah ikutan. Nggak pernah kepilih karena nggak ada kemampuan spesifik yang mendukung acara pentas seni tersebut. Bakat..., ehm..bakating ku teu boga na. Usaha lain untuk get into the group.., wah susah... mau ikut Bina vokalia atau sanggar seni kan mahal. Support ? Ortu gw lebih seneng gw jadi pramuka dan juara kelas aja, manteng dari kelas 1 ampe kelas 6, aman dan murah.

Jaman NKOTB, cuman bisa nebeng nonton video-nya di rumah Ade "Ived" Petra di jalan Panorama sebrangnya SMP 12 (kalo Ade baca ini, sumpee... aku kangen banget ama kamu, aku coba tlp kamu nggak diangkat terus.Kemana aja sih ? Sibuk ya ??/). Nggak keduitan buat beli merchandise mereka.

Pas Rick Astley lagi nge-top, lumayan lah dengan modal kaset kosong boleh nemu di kamar sodara gw, kesampean juga ngerekam lagu-lagunya. Ide rada cerdas waktu itu adalah bikin RAFC, Rick Astley Fans Club. Cihuyyy, gaya pisan. Anggotanya sih honestly cuman 3 orang: gw, Ade "Ived" Petra, dan Irma Yulianti si anak KPAD (dia tetanggaan ama Aa Gym). Ada juga anggota kehormatan, yg terpaksa ikutan ngefans karena maen bareng ma kita : Uchie dan Endang. Not bad, 5 anggota for the start. And till the end of the club.

Oh iya, jangan lupa saat itu gw udah mengembangkan sayap ke-penulis-an gw dengan menerbitkan edisi pertama bulletin RAFC. Isinya pasti gombal semua lah… Apal meureun...

Jaman Dunkin Donuts dan Texas gw lakonin bareng sohib gw yang kaya itu, Non Ade "Ived" Petra seorang. Dia rajin ngejajanin gw semata karena prihatin berikut butuh temen jalan-jalan, or sekedar ngeceng di Palaguna, Kings, dll. Gw saksi hidup perputaran nama cowok keren dalam hidup Ade saat itu. Gw terbengong-bengong dengerin cerita-cerita ttg pacar dia, dan dia malah cekikikan. Kali dia pikir, kok gitu aja gw nggak tau sih.

Ya gitu deh, penonton.... sebagai duplikat Elektra, gw merasa senasib dengan dia. Meski ternyata jalan nasib kami berbeda. Dia jadi pengusaha dan jadi klenik-er. Sedang gw, ya begini ini. Nulis-nulis nggak puguh disela map-map biru berserakan di meja kantor gw. Ketauan banget nggak sih, korupsi waktunya ?

Peran ”penonton ” itu kadang membuat beberapa temen bilang bahwa hidup gue begitu mulus, bergulir dengan tepat pada jalur menuju kemapanan, kesuksesan, dan ke-an ke-an lainnya. Kaya durian jatoh dari langit ke depan muka suami gw (abis gw nggak suka durian sih !).

” Lu mah enak, udah mapan, jadi pegawei negeri kan enak. Tinggal nunggu gaji aja tiap bulan. Harga sembako naek, pasti kan gara-gara gaji lu diumumin bakal naek..”

atau komentar lainnya, ”Ih, seneng banget ya, Mbak...udah ada pegangan. Gimana sih ketemunya kok enteng banget jodohnya? Kapan atuh nikahnya ? Jangan lupa undang-undang.”

Selang berapa lama, ” Waaah ? Hamil ??? Cepet banget ! Selamat yaaa !!!! Gila lu, bisa juga bikin anak, asal anaknya jangan kaya lu aja...kebluk !”

Kemudian puncaknya, ” Udah, jangan teoritis deh. Om-do, tauk nggak. Lu sih enak ada suster, ada si Mbak. Lu nggak pernah pegang dapur kan ? Lu nggak pernah pusing gara-gara urusan mertua kan ? Anak lu nggak rewel dan minta gendong sepanjang malem kan ? Jadi, jangan sok nasehatin gw deh ! Gue pusing...pusssiiiing !”

Lhooo ????

Ternyata selama ini gw juga ditonton. Kaya Truman Show. Kaya Elektra yang ditonton ama gw, kamu, dan pembaca lainnya. Gue baru nyadar bahwa juga bisa jadi komoditi gosip, bisa jadi target ini itu, life is not that smooth anymore. Gue harus bisa melepaskan diri dari kebisuan yang terlanjur gw piara sejak lama. Well, welcome to the real world, girl...

Ya, gitu deh...kesimpulan dari buku-nya Dee. Dia udah ngehibur gue dengan tour de Bandung in nineties dan awal milenium III-nya. Lumayan lah, gw bisa cekikikan, cekakakan...sambil nemenin anak gw tidur, sebelom akhirnya gw juga terngorok-ngorok di sebelahnya. Khusus bagian ”mualaf-nya Watti dan keplin-planannya Watti” , jangan-jangan itu yang membuat novel ini dikritisi oleh sebagian ikhwan dan ukhti di milis-milis sebagai novel yang ”kurang menarik”, nggak greget, kurang bermanfaat and so on.

So what ? Itu adalah potret sungguhan. Pasti banyak di antara kita yang seperti Watti, terlepas dari apakah kita mualaf atau Islam sejak brojol. Bukannya potret yang dijepret ama Dee lewat percakapan Etra dan Watti itu bisa menelurkan kesadaran betapa hati kita ini juga kadang penuh kebimbangan kaya Watti?
Nggak yakin: enya kitu Alloh Nu Maha Suci teh bakal ngaijabah du’a urang ?
Nggak sabaran: kok udah berusaha mati-matian, maksimal, tapi nggak ada hasilnya.
Putus asa: kenapa mesti gw yang begini ?

Perasaan kaya gitu, menurut kacamata gw, mah adalah versi lain dari kegamangan si Watti yang ketakutan nggak masuk surga. Teuing mun urang salah (tolong dikoreksi ya, saudaraku). Naah, kacamata gw bilang juga, ocehanDee dalam Petir itu patut kita jadikan informasi penting bahwasanya tiba saatnya kita mempersenjatai diri dengan keyakinan akan kekuatan, keagungan, keindahan dan keberpihakan Allah SWT pada kita. Allah SWT is always on our side, kok. Setan emang hobi kilik-kilik, jadi malah kita yang menjauhi ’side’ yang deket Allah tadi. Sok atuh kita rapatkan barisan. Belanda udah deket nih.

Kalo Dee sempet baca ini (duilee, ge-er amat...Eee, bole donk !) all I can say is ”I enjoy the book”. Mungkin dengan cara yang berbeda dari penikmatan gw thd buku dia yang lain, thd bukunya Helvy Tiana Rosa, buku John Grisham, buku Jhumpa Lahiri, komik Jepang atau buku siapa pun.

Oh, ya..Dee, bocoran dong.. entar si Etra jadian nggak sih ama Mpret ?

Thursday, March 31, 2005

Jakarta oh Jakarta

Beberapa tahun yang lalu ketika gw baru jadi new kid di hutan metropolitan ini, hal pertama yang gw pelajari adalah rute bis kota. Kebeneran tempat tes kerja gue itu tersebar di Senayan, di Jurangmangu Bintaro, di Purnawarman dan di Bujana Tirta Rawamangun. Saat itu naek taksi merupakan hal super mewah dan jelas nggak mampu gw jabanin. Walhasil, terminal Blok M jadi my life savior ketika udah mulai binun atau salah naek bis.

Lumayan sih, banyak hal menarik yang nggak pernah gw liat sebelomnya di Bandung. Ibu-ibu hamil gede masih gelayutan di tiang bis Mayasari yang masih untung bisa jalan..atau tepatnya merayap. Anak bayi merah menjerit kepanasan dalam gendongan emaknya yang juga berkeringat gobyos-gobyos, disamping babehnya yang sibuk ngipasin. Belom lagi copetnya. Gara-gara gw ingin waspada, gw jadi sedikit parno. Semua muka jadi terlihat mencurigakan. Kan gw nggak tau mana yang copet mana yang bukan. Soalnya katanya, copet jaman sekarang nggak kalah necis ama eksmud. Entahlah, maksudnya eksekutif muda atau eks pengemudi.

O ya, tukang ngamen di Jakarta rata-rata juga kurang bersopan santun dibanding pengamen ceria di perempatan Jl. Sumatra Bandung yang gape nyanyiin lagu So7. Nggak jarang pengamen di Jakarta malah ngancem, ”Uang seribu dua ribu tidak ada artinya bagi Bapak Ibu, maka kami ingatkan.. daripada kami merampok, sudilah kiranya Bapak Ibu memperhatikan nasib kami...bla..bla..”. Lha kok... kalo seribu dua ribu nggak berarti, ngapain juga gw naek bis yang ongkosnya cuman 700 perak...Justru karena uang serebu itu amat berarti, Bung ! Kita kan sama-sama pengangguran. Bedanya gw kalah galak aja. Lucu banget deh, mahalan biaya pungli daripada biaya resminya.

Tapi itulah Jakarta. A huge scaring city.

Ketika gw udah resmi jadi pegawai (negeri, pula), bertambahlah potongan puzzle tentang ibukota Negara ini. Pertama, aturan transportasi. Jangan coba-coba berangkat 5 menit lebih siang dari biasa, nyampenya di kantor bisa lebih dari satu jam.


Jangan lupa bawa hairspray, in case ada penyerangan (ini menurut nasehat kecengan gw dan meski gw surprised dia ada perhatian ama gw, gw nggak ikutin saran ini).

Kalo naek bis kaki kanan dulu, kalo turun kiri dulu dan jangan sampe kebalik.
Siapin uang pas di kantong untuk ongkos bis, jangan merogoh tas atau membuka dompet.
Matiin ha-pe di bis.
Peluk tas dan pegangan erat-erat.
Ketok tiang bis pake duit recehan sebagai kode mau turun di halte tertentu.
Tawar ongkos bajaj sampe setengah harga penawaran, baru naekin dikit-dikit.
Jangan naek ojek kalo nggak kenal ama tukang ojeknya (lho?????).
Naek taksi Blue Bird Group aja. Jangan lupa liat nomor seri taksinya dan nama pengemudinya. Jangan keliatan banget nggak tau jalannya, belagak-belagak tau aja daripada ditipuin argonya ato dijahatin.

Duh, mau pergi ke suatu tempat aja susahnya amit-amit. Stressss, maneh......Untungnya gw nggak punya barang berharga, no watch, no ha-pe, no gold accessories, kecuali pas hari gajian aja ada duit lebih di dompet. Dan untungnya lagi, karena gw tinggal ama kakak gue kadang gw nebeng pulang ama dia atau ikut bis jemputan. Jadi lumayan lah....

Aturan kedua, tentang pengeluaran. Mengingat kondisi keuangan gw yang ngos-ngosan, tight money policy terpaksa gw terapin. Tapi di lain pihak gw nggak mau jadi orang pelit. Jadi, gimana ya... ? Kayanya kurang berhasil tuh policy-nya. Buktinya gw sering minta supply dari ortu di akhir bulan atau pas mudik ke Bandung. Gw inget banget, waktu itu gw jadi hobi makan gado-gado atau ketoprak yang cuman 3500 perak. Saingannya tuh kakap asem manis 4000. Ikan mas goreng aja kadang-kadang, soalnya 6000. Rendang lebih mahal lagi. Kesimpulannya, gw rajin puasa lah...hihhi.. (mudah-mudahan Allah menerima puasa itu sebagai ibadah gw, amiiin). Trus, gw cuman bisa ”teleg aja langsung” ngeliat temen-temen gw berbelanja jam tangan, tas, baju dan sepatu ber-merk internasional. Belum lagi mendengar harga kos-kosan mereka yang hampir seharga gaji bulanan gw. Tempat makan dan kongkow mereka yang-namanya-nggak-pernah-gue-sebut karena gue nggak tau. Pe-es lah, Pe-i lah, Sogo lah, Hardrock lah, wuihh...paling banter yang aku mampu adalah ngumpul di foodcourt Pas-Fest Kuningan (standar banget ya, prenk... inget nggak lo-lo pada ?) terus nginep di kos-an Meli yang mahal itu.

Aturan berikutnya, tahan emosi dan jangan minder. Gimana nggak minder... kayanya semua orang Jakarta pada pe-de, setidaknya kelihatan lebih pe-de, lebih pinter, lebih canggih dari yang sebenarnya. Sementara gw, cupu banget deh dari semua segi. Gw cuma bisa membatin ”wow, hebat amat ni orang..” ketika seseorang nyerocos ttg dirinya, apa yang dilakukan, apa yang dipunyai..pokoknya hal yang hebat-hebat, yang gw nggak ngerti baik dalam kerjaan atau pergaulan. Belom lagi kakak gw yang rajin banget bilang ”Kalo kerja, yang penting tekun dan rajin, nggak usah bertingkah macem-macem deh..” Gw jadi sibuk mikirin definisi ’yang macem-macem’ itu kaya gimana, dan apakah yang gw lakuin selama itu tuh udah termasuk ’tekun dan rajin’ apa belom. Haeehhh, beban pikiran untuk memiliki ”image yang baik” jadi lebih berat daripada beban kerjaan yang sesungguhnya. Apa di Jakarta image itu emang penting banget sehingga semua orang harus heboh ?

Be tough, itu aturan keempat. Mengingat berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, termasuk kemacetan, banjir, ada orang sirik, godaan dari cowok-cowok (baik yang bertanggung jawab maupun yang tidak, dan yang menarik maupun tidak menarik), persaingan tidak sehat, gosip-gosip tetangga dan hal-hal ajaib lainnya di luar perkiraan gw waktu jadi mahasiswa yang baik hati, tidak sombong, jujur dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Itulah Jakarta. Jakarta yang sekarang jadi Jakarta gw. Tetap hutan metropolis yang luas dan menyeramkan. Tapi jalan rezeki gw hingga saat ini terhampar di sini. Terlebih lagi ”matahari dan bintang” gw ada di langit Jakarta. Mereka yang tersayang itu terlihat jauh lebih bersinar dari Jakarta ketimbang dari tempat mana pun di dunia. So, sapa suru datang Jakarta ?

Wednesday, March 30, 2005

I Apologize

Gue pernah dicelain gaptek, gagap teknologi, ama Feti. Iyyya seehhh... plus guptek, gugup teknologi ..hihi...kalo bukan karena kerjaan yang nuntut gue make high tech devices, ’kali gue udah kemana tau deh... Nggak tau nih, mind set gw harus segera diubah karena bakalan rugi kalo gue nurutin ’ke-urdu-an” gw...(ngomong-ngomong Urdu itu salah satu bahasa etnis India kan ? kok bisa ada hubungannya dengan kuno, rikiplik, dll sih ?).

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, rasanya sebel aja karena gara-gara gue nggak memperhatikan kode etik electronic information jadinya gue ketempuhan. Bener-bener sial deh, gw nyesel...ngapain juga gue pake forward-forward segala.. Penyakit maen forward itu kali ini bikin gue kapok deh.

Kejadiannya jumat sore-sore, pas banget gw hepi mau week end... Tapi apa mau dikata, nasi udah jadi bubur saring... Ya udah. Akhirnya gw kirim email ke ”downline” gue.. dengan harapan mereka smart enough to not send the damned mail to their friends.

Bapak dan Ibu Yth.

Sebelumnya saya mohon maaf atas email ini dan atas informasi yang tidak benar akibat beredarnya email ttg xxx, yaitu bagian paling atas sbb : xxx.

Dengan rasa sesal yang mendalam, saya sampaikan via email ini bahwa kejadian ini adalah kesalahan saya sebagai penerima informasi yang langsung mem-forward tanpa mempertimbangkan akibat buruk yg ditimbulkan.

Saya memohon maaf karena telah meneruskan informasi yang sangat menyesatkan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut. Mohon Bapak dan Ibu menyampaikan/meneruskan kepada penerima email yang telah menerima email tsb dari Bapak & Ibu untuk tidak mengirimkan email tersebut dan memutuskan rantai informasi tersebut sampai di sini.


Hormat saya,


Walhasil, sepanjang week end gw gelisah dan salting. Suami gw sampe ngomel-ngomel..dia bilang kerjaan kantor gw aja udah cukup banyak, ngapain sih iseng banget kirim email yang belum ketentuan benar enggaknya. Nggak ada manfaatnya, malah membawa musibah. Iyyya sehhh…..

Tuesday, March 29, 2005

25 ml of love

Kaylia sekarang sombong ya ama Ibu...nggak mau mimik ASI lagi...hhuuuua huuua... malah Ibu yang nangis-nangis nih... Kenapa sih ? Gusinya gatel ? Atau ngantuk banget sampe males enyot-enyot ? Ibu sedih banget nih... karena makin kamu males mimik ASI, ASI Ibu makin dikit aja...kalo diperah di kantor jadi sedikit banget : 25 ml !!!! Padahal Ibu udah mojok lebih dari setengah jam tuh.....

Mungkin kamu sekarang udah merasa gede ya...jadi boboknya kepingin kaya anak gede juga, cuman dipok-pokin aja ama dibaca-bacain cerita. Fenomena kamu mogok ASI ini ngagetin Ibu banget, tapi ternyata hal tersebut adalah hal yang wajar menurut http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_asklc_supp2.html. Yang nggak wajar adalah sampai sekarang (3 minggu) kamu masih mogok juga...hikksss...


O ya, ini keterangan dari temen ttg Nursing Strike..

"Nursing strike itu adalah kondisi dimana tiba2 anak kehilangan interest dg breast & tiba2 juga gak mau menyusu.Penyebabnya bermacam2 bisa krn tumbuh gigi, cold, sore throat, atau sangibu smell different (ganti deodoran, dsb), penggantian pola menyusui, dsb.Kadang juga nursing strike ini gak ada sebabnya. Jadi ya terjadi begitu saja.Karena anak yg menolak tiba2 ini banyak para ibu yg beranggapan bahwa anaknya memutuskan diri utk menyapih dirinya sendiri. Ternyata gak loh.Menurut dari byk artikel ttg nursing strike, yg akhirnya mencuri perhatian saya utk banyak browsing soal ini, ternyata beda loh tanda2 anak yg mengalami nursing strike dg yg mau weaning.Kalo tanda2 weaning (menyapih) penolakan terjadi secara gradually (bertahap, gak tiba2) bisa terjadi berminggu2 atau berbulan2. Sedangkan nursing strike, penolakan terjadi tiba2 tanpa aba2. Satu sisi, nursing strike bisa jadi difficult time buat sang ibu. Biasanya nursing strike ini bisa terjadi 1 atau 2 hari atau lebih.Yg penting selama nursing strike terjadi sang ibu tetap berusaha tenang.Tetap menjaga produksi ASI dg rajin memeras / memompa ASI. Juga tetap tawarkan ke anak utk menyusui. Perlahan nantinya begitu masa nursing strike selesai anak akan kembali spt semula.Ahli laktasi di Laleche league menyarankan untuk mencoba menyusui anak saat ia dalam keadaan mengantuk.Biasanya mereka gak akan menolak utk menyusu dalam keadaan ini. "


Ya, usaha Ibu paling cuma merah ASI yang udah nggak seberapa itu sambil merusaha mencuri-curi kesempatan menyusui pas kamu tidur. Biarlah merah cuman dapet 25 ml, yang penting isinya cinta semua.

Wednesday, March 16, 2005

You've Got a Mail, Ner !

Alhamdulillah so far kehamilan lu nggak ada masalah.
Tentang kesedihan lo dari wanita karir menjadi wanita rumahan, emang rada beurat (Lenni juga ngalamin hal yang sama lho)... Mungkin perasaan lo itu timbul karena be-te dan boring di rumah melulu dan muncul pikiran bahwa capabilitas lo berkurang gara-gara di rumah melulu. Having no money, powerless, and so on...


Tau gak, Ner... kalo lu udah melahirkan dan nggak ada kewajiban mesti keluar rumah untuk bekerja berarti elo ibu yang sangat beruntung:

1) lo bisa kasih ASI ekslusif s.d. 6 bulan karena jiwa raga lo hanya untuk anak...kan berarti biaya susu formula bisa di-eliminasi (harga rata-rata Rp60.000 per kaleng 400 gram, perbulan seorang bayi bisa menghabiskan 5 - 6 kaleng) --> Biaya susu kaleng anak gue lebih rendah karena gue masih kasih ASI ketimbang biaya si Joe yang ASI-nya udah nggak keluar lagi.

2) untuk mengurangi penggunaan diapers yang mahal, lo bisa pake popok semi karet yang bisa dicuci dan dipake ulang. Barangnya ada di Yen's Setiabudi. Anak lo nanti nggak rewel karena kebasahan tapi lo nggak perlu biaya ekstra untuk diapers (seorang bayi yang full diapers 24 jam memerlukan 6-7 diapers/hari=240 diapers/bulan dan harga Mami Poko per buah adalah kira2 Rp1900...bayangin berapa fulus bisa dihemat

3) karena tidak bekerja, berarti lo menghemat biaya baby sitter yang rata-rata Rp500-6000ribu / bulan

4) ibu yang tidak bekerja di luar rumah memungkinkan untuk full nurturing dan menciptakan playgroup untuk anaknya di rumah. Elo akan banyak punya waktu untuk menciptakan berbagai kegiatan untuk mengajarkan kemampuan dasar (berhitung, bahasa, doa-doa, musik, dll) dan permainan edukatif yang bisa lo contek dari buku atau majalah parenting --> anak lo bisa jadi lebih pinter dan cerdas ketimbang anak yang dititipin ke playgroup atau pembantu lho

5) ibu yang tidak bekerja mampu menjalani peran sebagai "teman" yang berkesan bagi anak karena memiliki banyak waktu untuk bermain dgn sang anak --> pengalaman sohib gue SMA, Ade, yang sukses melewati "masa bermain bersama anaknya" dan baru kembali bekerja setelah anaknya 3,5 tahun dan si anak siap masuk TK serta punya kegiatan sendiri.

6) rejeki bagi anak bukan hanya dilihat dari kesiapan materi yang dimiliki kita sebagai orang tua, tapi juga kesehatan anak (jadi ngga perlu biaya dokter dan obat karena sakit), bawaan/karakter anak yang memudahkan pengasuhan (nggak susah makan/minum jadi nggak perlu repot cari/masak makanan yang aneh-aneh, gampang kalo kita titipin ke nenek-kakeknya...hehehe), kemampuan akademis dan kreatif anak (jadi nggak perlu terlalu banyak les ini-itu yang memerlukan biaya, bahkan kalo anak kita pinter bisa membiayai sekolahnya sendiri...hihi...kan untung di kita)

7) untuk menjadikan anak sholeh tentu kita sendiri harus sholehah, ayahnya juga harus sholeh.Kalo belom sholeh yaa setidaknya dalam proses menuju kesholehan lah, yang penting usaha...kan namanya juga never ending process...

8) anu terakhir mah percaya dan yakin rejeki mah ti Alloh SWT semata.

Nah, bukankah ke-8 poin di atas merupakan kelebihan elo dibanding ibu-ibu lain yang nggak punya kesempatan emas kaya elo. Namanya juga hidup, pasti ada pilihan. Dan pilihan elo adalah pilihan terbaik bagi bayi lo,u made the right decision long before the baby came into your life. Someday, somehow, the baby will be thankful for that.

PS : Dari 8 poin di atas, gue bergerak dari no 8 ke atas...hehe...Means No. 5 upward are things I couldn't do completely. Sedih gak seeh ???

Gichu aja ya, Ner... hope this will help.

Monday, March 14, 2005

Anniversary

Hari ini sahabat gue berulang tahun. Hip..hip..huree...(ps: Met ultah ya, say...) Pas gue telefon dia tadi pagi, ternyata dia sedang ada di suatu tempat yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan (kepengen nggak sih?). Dia lagi menyepikan diri. Mungkin tujuannya biar lebih deket ke Dia. Mungkin juga biar lebih intens dalam bercakap-cakap dengan Dia. Yang jelas, gue ikut seneng bahwa perayaan ulang tahunnya lebih dekat kepada kebaikan. Insya Allah.

Dalam lubuk hati gue yang paling dalam, gue bisa memahami kerinduannya untuk beribadah bersama dalam suatu kebersamaan yang disukai Allah SWT. Fitrah manusia untuk saling menyayangi dan berbagi kasih memang nggak terbatas pada pernikahan, tapi ketika Allah SWT menciptakan pasangan dari jenis kita sendiri tentu Dia memberi pesan khusus.

Pesan itu pasti berlaku bagi seluruh umat manusia, baik yang akan menikah, belum menikah, sudah menikah, sudah bercerai, atau yang berniat tidak menikah. Buat gue yang alhamdulillah oleh Allah SWT hingga saat ini dikaruniai jodoh dan rumah tangga, pesan itu terkadang tidak terpikirkan bahkan terlupakan. Tertimbun oleh tumpukan kerjaan rumah tangga (meski sejujurnya jarang banget gue kerjain), kerjaan kantor, urusan anak, ortu/mertua, dll. Perumpamaan termudah : bagai kacang lupa ada kulitnya...hehehe, artinya gue lupa bahwa pernikahan dan rumah tangga gue ada hikmahnya. Tergantung gue, cukup cerdas nggak untuk memahami dan mengambil manfaatnya.

Ga kerasa gue udah nikah 3 tahun, tanggal 24 Maret ini. Pengalaman gue berumah tangga masih jauh banget dibanding pernikahan bokap-nyokap gue yang udah 31 tahun atau mertua yang udah ampir 40 tahun. Gue hanya berdoa mudah-mudahan rumah tangga ini diberkahi dan mendatangkan barokah juga bagi anggota keluarga dan saudara-saudara muslim gue.

Sebagai pasangan, gue nyadar banyak banget kekurangan gue. Mudah-mudahan dia ikhlas dan tulus menerima gue dan tetap semangat untuk mencintai gue dengan benar : menghormati dengan tulus keberadaan gue sebagai ”manusia”, mengingatkan dengan sabar, menyayangi, memarahi ketika perlu, menjaga gue, dan tentu saja mensyurgakan gue (meminjam istilah dari sahabat gue yang sedang ultah itu).

Tentang dia, gak banyak yang bisa gue tulisin. Standar laki-laki dengan seabrek kelebihan dan sedikit kekurangan di mata gue. Tapi yang jelas dia membantu gue mekar jadi bunga. Dan itu udah melukiskan semuanya.

O ya, tentang sahabat gue tadi, Insya Allah akan memberikan yang terbaik untuknya. Jodoh terbaik yang dipilihkan Dia, rumah tangga yang sakinah dan penuh berkah, dan keluarga yang membawa kemaslahatan bagi jagat raya dan isinya. Insya Allah juga akan tiba saat terbaik, tempat terbaik, dan jalan terbaik baginya. Tentu apa yang belum tampak di mata kita itu tidak akan mengurangi karunia Allah yang lain : kesempatan mengenal-Nya, kesehatan, kecukupan, dan lain-lain. Sabar ya, prenk....

OK deh, segini dulu.
P.S. : Bon anniversaire, mon cher !!!

Pilihlah Aku

Jakarta, 14 Maret 2005

Hari ini Mbak Indah (my officemate) mulai masuk kerja lagi setelah cuti melahirkan. Dia sedih banget kudu ninggalin anaknya dan bertanya-tanya kenapa juga cuti melahirkan itu nggak 6 bulan aja, ato minimal 4 bulan lah...kaya di beberapa negara barat sana. Jadi kan bisa ngasih ASI ekslusif.

Ibu jadi inget dengan pengalaman sendiri deh, Kaylia. Begitu masuk kantor lagi, 2 bulan setelah kamu lahir, Ibu nggak punya energi untuk melakukan apa pun di kantor. Percaya nggak, mau bikin surat atau memo sederhana aja mikirnya lama. Boro-boro mau nyebur lagi di query-nya Oracle dan sederet tabel di database. Ibu bener-bener jadi Dorry, itu lho ikan yang hanya punya short memory di film Finding Nemo.

Banyak temen dan info dari internet yang bilang bahwa IQ seseorang memiliki kemungkinan untuk berkurang hingga 20 poin pada ibu hamil dan ibu setelah melahirkan sampai kira-kira 6 bulan. Setelah tau bahwa kemunduran kecerdasan itu alamiah dan hanya bersifat sementara, Ibu jadi nyantai. Malah menikmati segala ”fasilitas khusus” sebagai ibu menyusui : nggak usah lembur, bisa izin pulang cepet sewaktu jadwal imunisasi, bisa nawar untuk nggak dinas luar kota, dan perhatian penuh dari temen di ruangan kerja. Belom lagi disuruh makan banyak, dibawain masakan rumah dari Bu Dina, boleh istirahat lebih lama karena mesti berbuat mesum (memerah susu murni...hehe). Woww, ternyata nikmat banget jadi ibu.

Tapi kembalinya Ibu ke kantor membuat Ibu harus terpisah sama kamu minimal 9 jam sehari. Belom lagi kepotong waktu bobo selama 9 jam. Sisanya tinggal beberapa jam ba'da sholat subuh, menjelang maghrib sampe kamu bobo. Ada konsekuensi untuk itu : masa babymoon kita cepet sekali berakhir dan mungkin masa itu nggak akan pernah bisa terganti.

Itulah pilihan, Kaylia sayang. Life is about choosing something even when you don’t have choices at all. Dan pilihan Ibu itu mahal harganya. Mulai dari rasa bersalah, kecil hati dan tertekan akibat tidak mampu memberi full ASI, penilaian yang Ibu rasa ”kurang adil” dari beberapa anggota keluarga dan komentar pedas tentang berbagai kekurangan Ibu lainnya.

Hal-hal di atas belum termasuk robeknya hati Ibu ketika senyum kamu tertuju ke arah lain. Ketika tangan kamu terjulur dan bukan Ibu yang kamu inginkan. Ketika kamu menangis dan terdiam oleh senandung orang lain. Ketika kamu berceloteh dan terkekeh karena asyiknya bercanda bersama si Mbak dan Suster. Ibu merasa sedikit tersisih dan tersingkir dari peredaran.

Untuk beberapa orang perasaan itu tidaklah penting sehingga they make it so much harder for me. Banyak air mata yang tak tertahan sehingga hati Ibu sempat jadi sempit dan kotor. Tapi entah gimana, kamu selalu jadi penyelamat buat Ibu. Dulu ketika banyak kesangsian akan kecukupan ASI untuk kamu dan ”menyarankan dengan keras” untuk menggunakan botol dan susu formula, kamu memberontak, menjerit, mengamuk. Tidak ada yang kamu inginkan selain Ibu (atau air susu Ibu, tepatnya). Kamu menyelamatkan Ibu dari jurang perasaan tidak berguna.

Begitu juga ketika Ibu mendengar komentar menyakitkan minggu lalu dan Ibu hanya bisa menelan ludah, dengan gagah perkasa kamu bela Ibu dengan memeluk Ibu erat-erat saat itu. Dengan memilih Ibu ketika banyak tangan mengajak kamu. Dengan berteriak histeris ketika Ibu pulang keesokan harinya.

Ketika kamu tertidur pulas di pelukan Ibu dan air mata sudah mengering, Ibu menyadari bahwa hikmah datang dalam berbagai cara, waktu, tempat, dan kemasan. Bukankah berlian tetap akan jadi berlian, tidak peduli ada di tangan siapa ? Betapa pun menyakitkan penilaian bahwa Ibu bukan ibu yang cukup baik, tapi Ibu harus cepat mengambil pelajaran dari situ. Kalo enggak, hanya akan mendatangkan kekotoran hati dan kerugian.

Kaylia, sayang...maafkan Ibu karena pernah melalaikan kamu, pernah sedikit menomorsekiankan kamu, pernah menumpuk kamu diantara map dan file kantor Ibu. Maaf karena waktu Ibu untuk kamu banyak tersita percuma. Ibu tidak punya dalih apa pun tentang yang kemarin-kemarin itu, tentang Ibu lupa menelfon, tentang lembur, tentang jalan-jalan di hari Sabtu tanpa kamu, tentang makan siang kamu di hari Minggu yang tanpa Ibu, tentang segala kekurangan Ibu yang selalu kamu maklumi.

Please, give me a second chance. I can’t promise you anything but my unlimited love. I can’t say that I will be a perfect mother but I’ll do my best for you. So, when some hands are available for you, please choose mine !

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati dibandingkan menangis tersedu-sedu. Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang....

Dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang..... tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kalah, kita tetap menang hanya karena kamu berbahagia........ dapat mencintai seseorang...... lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri.....
(dari Novel berjudul "Cinta yang terlambat" Penulis: Dr. Ikram Abidi)


With abundant unseen love

Ibu