When I Judge the Book by it's Cover
Sebagian besar orang di sekeliling saya, punya bukunya masing-masing dengan sampul yang kadang pun tidak selalu sama dalam setiap kesempatan saya melihatnya. Mereka mengisi bukunya, menghapus sebagian yang mereka kehendaki, mewarnai, memberi gambar, dan lain-lain. Buku itu bergerak seiring dengan dinamika hidup pemiliknya.
Pertanyaannya, bagaimana jika buku itu tebelnya luar biasa ? Bagaimana jika buku itu berbahasa asing yang belum tentu saya mengerti? Bagaimana jika buku itu bersikukuh tidak mau saya baca ? Bagaimana jika ternyata saya tidak mampu memahami isinya ?
Saya tidak begitu bahagia ketika saya harus mengakui, tak satu buku pun yang hingga saat ini selesai saya baca. Orang tua saya hanya memperlihatkan sebagian script-nya, dan jarak semakin memaksa saya untuk hanya membaca ”resensi mingguan atau bulanan” dan sekilas melihat sampulnya yang agak berubah menjadi lebih cerah dan gambarnya yang lebih semarak semenjak Kaylia lahir.
Bab-bab akhir mertua saya memang saya bisa baca setiap hari, tapi apa yang tertulis sebelumnya hanya bisa saya lihat dari Bab Ringkasan. Yang agak lumayan adalah buku suami saya yang sama-sama kami diskusikan, kami isi, kami corat-coret, kami robek, dan kami bawa-bawa sehingga besar kesempatan bagi saya untuk sempat tekun membaca dan memahaminya.
Buku saya sendiri kemungkinan besar makin sulit dibaca (sedih banget, karena semakin sedikit orang yang berniat dan punya waktu untuk memahami saya), makin nggak keruan isinya, makin kacau...meskipun menurut saya itu menunjukkan bahwa hidup saya berubah dinais...agak bergeser dari ”rel kereta api” menjadi ”rel jet coaster”. Sampul buku saya itu juga sering terlihat kabur seiring dengan perubahan warna hati saya. Sketsanya juga makin abstrak. Kata orang, dulunya sampul saya itu bergambar simbol yang jelas dan mendasar, seperti kotak, bulatan, segitiga dengan warna-warna elementer merah, kuning, dan biru.... But, hey.. I'm growing up, you know !
Yang bikin excited adalah bukunya di kecil saya. Dia adalah karya yang paling luar biasa yang pernah saya baca. Tiap malam (karena sempatnya malam) saya baca dan baca lagi, tak pernah puas dan tak bosan-bosannya saya ulang-ulang, khawatir ada satu paragraf, satu kalimat, satu kata, atau satu huruf yang terlewat atau tak mampu saya pahami.
Sering muncul rasa egois untuk ikut campur melukis sesuatu di dalamnya, diam-diam menorehkan tinta saya, atau ikut-ikutan nulis-nulis, atau sekedar nyumbang saran ttg warna atau mendesain sampulnya supaya lebih cantik, kelihatan lebih intelek dan nyeni, supaya lebih bermutu. Padahal setiap titik keegoisan seperti ini akan berakibat semakin berkurangnya kesempatan dia untuk menemukan yang terbaik dari dirinya sendiri.
Saat ini pun saya masih dililit rantai egoisme dengan semena-mena membuat kerangka untuk isi buku-nya. Bab 3 adalah bab kegiatan pre school-nya yang belum saya putuskan apakah di rumah saja atau saya kirim ke sebuah tempat bernama ”sekolah”. Bab 6 nanti adalah kegiatan luar sekolahnya, termasuk buku-buku apa yang layak dibaca. Bahkan saya sudah mulai mereka-reka bab-bab pertengahan menyangkut pacar pertama-nya, calon suaminya, mertuanya...Ya ampun, apa saya normal ? Gila nggak ya, mengingat Kaylia masih 11 bulan ??!
Ketika di tengah malam saya terbangun, memandangi wajahnya yang murni dan mencoba ikut menikmati mimpi indahnya bersama malaikat surga, saya kadang tiba-tiba tersadar bahwa kurang sempurnanya buku saya tidak patut menjadikan saya terlalu menuntut kesempurnaan kepada sosok kecil yang tengah lelap dengan cantiknya. Saya harus membiarkan dia belajar menulis dan menggambarkan sendiri apa yang dia inginkan. Saya harus mulai belajar mengerti dirinya sebagai ”seseorang”, bukan sebagai bayi, batita, balita, remaja or whatever... TUgas saya hanyalah membiarkannya tumbuh, berkembang, menari, dan berbahagia sebagaimana fitrah penciptaannya...
Untuk diri saya sendiri, mungkin tiba waktu bagi saya untuk mulai mengisi buku saya sendiri dengan lebih baik, lebih jelas, lebih memiliki makna. Jangan asal coret, even ketika merepresentasikan jet coaster saya pada posisi menukik tajam dan tidak ada safety belt yang dapat menolong saya memperkecil risiko. Saya juga berdoa semoga buku-buku yang belum sempat saya tamatkan tetap dapat mengilhami saya diiringi permakluman yang tulus dari pemiliknya. Pinta saya : bantu saya membacanya.
O ya, satu lagi... bersabarlah jika halaman-halaman buku saya tidak seindah yang dibayangkan, ketika judul dan sampulnya tidak berhasil memberi gambaran ttg saya yang sebenarnya. Kalau mungkin, maafkanlah saya. Lalu bangunkanlah saya dengan kasih ketika buku itu menunjukkan saya terlalu lama terlelap tak bermanfaat.
